(SAP)
SCHOOL AID PROJECT

TUJUAN

School Aid Project (SAP) merupakan sebuah program yang menyalurkan beasiswa anak usia sekolah yang orangtuanya mengalami kesulitan ekonomi dalam membiayai sekolah anaknya. SAP merupakan bagian dari Gerakan 100 Ribu yang digalang melalui Heartline Peduli.

Menurut data Kemendiknas tahun 2009 di seluruh Indonesia tercatat 1,5 juta remaja putus sekolah. Di propinsi Banten sendiri, sebanyak 135.800 anak dari usia pendidikan dasar hingga menengah atas tidak melanjutkan sekolah, dan sebanyak 19.800 lebih lainnya tidak bersekolah.

Di Banten saat ini terdata lebih dari 6.900 unit sekolah. Dari jumlah tersebut, beberapa unit lainnya tergolong rusak. Kerusakan infrastruktur dianggap menjadi salah satu faktor minimnya akses pendidikan warga, selain itu kesulitan ekonomi jugalah yang ditengarai sebagai penghalang terbesar bagi anak-anak kita yang ingin sekali belajar di sekolah.

Anak-anak ini kelak akan melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan tinggi untuk meraih gelar Strata 1 dan lainnya. Bertolak dari kenyataan getir yang dihadapi ratusan ribu anak Indonesia, dengan bantuan yang Anda berikan, mereka dapat menggapai cita-cita dan harapan mereka.

DAERAH PENYALURAN SAP

Dari 2008 hingga Mei 2011, 350 anak telah menerima  bantuan beasiswa sekolah melalui SAP. SAP ini disalurkan kepada anak-anak di wilayah Jakarta, Tangerang, hingga Aceh, Riau, Tomohon, Mamasa, Minahasa, dan Manado.

DETAIL PERSYARATAN

Berikut di bawah ini beberapa hal mendetail yang bisa Anda ketahui lebih dalam mengenai School Aid Project:

Syarat untuk dijadikan koordinator adalah:

  1. Jujur dalam mendistribusikan dana yang kami salurkan jika mereka adalah suatu lembaga organiasi gereja atau panti asuhan.
  2. Koordinator mengirimkan bukti penerimaan dana dari YASKI dan bukti penyaluran uang sekolah anak-anak didik dari sekolah yang bersangkutan.
  3. Koordinator harus memberikan laporan rutin 3 bulan sekali dan menjelaskan perkembangan anak-anak yang dibantu.
  4. Koordinator meminta kepada orang tua untuk memberikan kesaksian ketika mereka menerima bantuan beasiswa.
  5. Koordinator dan penerima bantuan sekolah adalah pendengar radio FEBC Manila, KFBS Saipan dan Heartline Karawaci.
  6. Koordinator mengisi surat perjanjian penyaluran bantuan dana SAP.
  7. Koordinator setiap tahun mengisi ulang surat permohonan bantuan beasiswa.

Kunjungan:

  1. Untuk bantuan yang kami salurkan ke daerah-daerah (pendengar SW), kami tidak mengadakan kunjungan ke rumah anak-anak atau orang tua murid penerima bantuan SAP, tetapi kami percaya kepada koordinator yang telah ditunjuk. Jika kami berkunjung tentu saja biayanya sangat besar dan memerlukan waktu yang lama.
  2. Kami hanya berkunjung ke wilayah Tangerang bersama-sama dengan koordinator, dan kami melihat secara langsung kehidupan mereka dan sekaligus mengabadikannya lewat foto untuk dokumentasi YASKI.

Bantuan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan anak:

  1. Karena orang tua anak memiliki kesulitan ekonomi, maka tentu saja biaya sekolah (SPP), uang buku, uang ujian dan lain-lainnya menjadi kesulitan tersendiri dan membutuhkan dukungan dana.
  2. Rata-rata anak yang dibantu melalui SAP ini berasal dari tingkat pendidikan Sekolah Dasar (SD) dengan presentasinya lebih besar dibanding SMP dan SMU. Hal demikian dilakukan dengan pertimbangan waktu belajar di tingkat pendidikan dasar memakan waktu yang lebih panjang, yaitu enam tahun masa belajar.

Respon YASKI terhadap anak didik yang dibantu:

  1. Kami mendapat masukan dari koordinator, yang menjelaskan kondisi jemaatnya yang sangat kekurangan dan perlu dibantu.
  2. Kami menerima surat-surat dan telepon dari orang tua secara langsung dan mereka menjelaskan kondisi keluarganya yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.
  3. Kami wawancara dengan anak didiknya sendiri apakah mereka punya semangat untuk terus sekolah atau tidak. Hal ini dilakukan supaya dana SAP tepat sasaran dan efektif.
  4. Kami melihat langsung kondisi keluarga mereka, apakah mereka layak mendapat bantuan beasiswa atau tidak.

KESAKSIAN

sariAwalnya saya takut kalau saya tidak dapat melanjutkan sekolah. Tapi saya senang sekali ada yang membantu saya melanjutkan sekolah sampai selesai. Saya yakin, cita-cita saya sebagai seorang penulis bukannya tidak mungkin saya capai. Saya akan berusaha untuk belajar lebih giat. Ibu saya pernah berkata jangan sampai mengecewakan orang yang telah digerakkan untuk membiayai sekolah saya. Saya ingin mengucapkan terima kasih karena Anda, walau tidak mengenal saya, namun bersedia membiayai sekolah saya.

Sari – Tangerang, Siswi SMK Citra Bangsa Global School CBC Serpong

yehezkielSaya senang sekali waktu menerima bantuan buat sekolah anak saya. Meski saya dan suami juga bekerja, namun seringkali keuangan kami sampai minim dan karena itu sulit sekali untuk membiayai sekolah anak saya.

Tak ada kata lain yang bisa saya sampaikan selain terima kasih dan terima kasih. Anak saya dapat dibantu hingga ia bisa menamatkan pendidikan dasar. Saya berharap bantuan yang telah Heartline Peduli salurkan kepada anak-anak yang seringkali harus berhenti sekolah hanya karena terbentur masalah ekonomi bisa terus dilanjutkan.

Tugini, Staf Perpustakaan dan Bagian Umum SD Kesuma Bangsa

“Saya bersyukur kepada Tuhan yang sudah memakai Heartline Peduli untuk membantu meringankan biaya sekolah saya. Puji Tuhan saya sudah lulus SD dan saya dapat melanjutkan ke pendidikan selanjutnya. Berkat dukungan dan doa Bapak/Ibu saya mendapat nilai yang terbaik di kelas. Doa dan harapan saya, Tuhan memakai Bapak/Ibu dengan luar biasa.”

Yehezkiel – Tangerang, Siswa Kelas 6 SD Kesuma Bangsa
Prestasi: Mendapat peringkat ke-1 tingkat sekolah dan Kecamatan Tangerang

sweet-pealaPerasaan saya bersyukur sekali masih ada yang bantu saya. Saya sudah terima bantuan, saya mau lebih sungguh-sungguh lagi. Saya mengucapkan terima kasih kepada para donatur yang masih mau membantu saya.

Kalau mereka tidak membantu saya, saya tidak tahu apakah saya masih bisa sekolah atau tidak. Saya sangat berharap bisa dibantu sampai lulus SMA. Kalau kuliah saya mau mendapatkan beasiswa. Ketika melihat anak-anak gelandangan yang tidak bisa sekolah, kadang-kadang saya merasa bisa saja saya seperti mereka, jika tidak pernah menerima bantuan sekolah seperti ini. Berharap sekali, makin banyak anak-anak sekolah yang dapat dibantu.

Sweet Peala – Tangerang, Siswi Kelas 10 (1 SMA) SMA Agape BK3
Prestasi: Juara ke-2 di kelasnya

GRAFIK & PERINCIAN