Seminar & Workshop Storytelling, 14 & 21 September 2019

Dalam rangka kegiatan Pra HUT YASKI yang ke-50 tahun, Sabtu 14 September lalu Yayasan YASKI dan Heartline Radio mengadakan seminar bertajuk  “Save Our Children from Fictional Heroes” di gedung Heartline Center. Hadir sebagai pembicara, Pdt. Jusak Widjaja – CEO Yayasan YASKI, yang juga berpengalaman 25 tahun dalam Pelayanan Anak. Enam puluh dua peserta terdiri dari orangtua, guru sekolah minggu dan para pendidik dari sekolah, diberkati dengan pemaparan materi yang relevan dan disajikan dengan menarik oleh narasumber.

“Acaranya bagus. Saya senang mengikuti seminar ini. Saya bisa membagikan apa yang saya pelajari hari ini kepada anak dan cucu saya.” Tulis seorang peserta dalam lembar evaluasi. Peserta lain menulis, “Seminar bagus. Materi-materi yang disampaikan mengoreksi diri saya sendiri.” Peserta yang merespons ini aktif dalam pelayanan di Sekolah Minggu.

Di awal sesi Pdt. Jusak lebih menekankan aspek teologis dalam memandang dan memperlakukan anak-anak. Narasumber menekankan pentingnya peran orangtua menjadi jembatan yang mempertemukan anak-anak dengan Tuhan Yesus melalui storytelling. Orangtua bisa menggunakan waktu-waktu yang disisihkan untuk melakukan storytelling tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian di Alkitab kepada anak-anak mereka. Di momen itulah, anak-anak akan memiliki pemahaman dan kedekatan personal dengan Tuhan. Anak-anak bisa merasakan sendiri, bagaimana Tuhan sangat mencintai anak-anak. Kalau anak-anak memiliki pengalaman kasih ini, maka ia akan memiliki gambaran diri yang positif tentang hidupnya. Dampaknya, ketika anak-anak menghadapi masalah apapun, kelak — mereka akan memiliki landasan kuat untuk merespon setiap persoalan hidupnya sesuai dengan Firman Tuhan.

Storytelling adalah suatu metode yang kaya manfaat dan bisa digunakan secara maksimal oleh orang tua dan pendidik untuk menanamkan karakter, nilai-nilai, pandangan hidup bahkan pengetahuan.

Di sesi kedua, Pdt. Jusak membagikan pengalamannya tentang pentingnya keterampilan-keterampilan tertentu dalam storytelling, seperti pentingnya persiapan, intonasi suara, gerak tubuh, penggunaan alat peraga dan multi-media, serta berbagai tips-tips lainnya.

Seminar kemudian berlanjut dengan workshop pada hari Sabtu (21/9) berikutnya. Sehingga setelah para peserta dibekali dengan teori yang mendukung, mereka pun bisa mempraktikkan hal-hal yang sudah mereka ketahui tentang storytelling. Antusias peserta ingin mempelajari teknik storytelling untuk diterapkan kepada anak-anak, sungguh terlihat. Peserta yang hadir mayoritas berpofesi sebagai pengajar di sekolah. Workshop storytelling meliputi: bercerita tanpa alat peraga, melatih pernafasan, dan memeragakan gerak saat bercerita kepada anak-anak.

Peserta yang hadir cukup banyak. Mereka duduk melingkar, dan sangat antusias mempraktikan semua yang dipelajari bersama-sama. Dalam workshop storytelling ini, Pdt. Jusak Widjaja menceritakan satu cerita yaitu cerita tentang burung dengan contoh gerakan yang atraktif. Selain memberikan contoh untuk peserta, tujuannya supaya peserta yang hadir bisa mengimajinasikan banyak cerita dan mempraktikannya kepada anak-anak.

Semoga acara ini memberikan dampak positif, mengedukasi orangtua dan pengajar sekolah minggu ataupun para guru, yang berkepentingan dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan dan spiritual kepada anak-anak melalui storytelling. Semoga anak-anak pun mengerti siapa pahlawan mereka sesungguhnya dalam kehidupannya. (JM/OV/SA).