Nama saya Hadi Wiryono, lahir di Surabaya tanggal 2 April 1934. Di Surabaya sampai umur 4 tahun, lalu pindah ke Jakarta. Masa kecil saya tidak bahagia. Saya sempat belajar ilmu kebatinan karena nenek moyang saya suka sekali kebatinan. Ketika saya sudah duduk di bangku SMP, adik-adik saya menyetel radio, radio besar yang biasa. Di situ ada suara bagus sekali yaitu suara I Wayan Duria suami-istri, mereka menyanyi dan menjelaskan sesuatu. Jadi kami tertarik bukan karena berita yang disampaikan tetapi karena suaranya yang ‘empuk’ dan bagus ketika mengucapkan: “Selamat sore” dan sebagainya, jadi saya tertarik.

Lama kelamaan saya tahu … oooh ini rupanya pemberitaan tentang Injil. Nah semua, saya dan adik-adik, jadi ingin lebih mendengarkan. Jadi saya dan adik-adik saya pergi ke gereja yang berbeda. Setelah orangtua tahu kalau kami pergi ke gereja, bapak dan ibu menjadi khawatir kalau pengaruhnya bagi kami tidak baik. Akhirnya kami pun dilarang, dan radio pun disegel pakai tali dan lakban.

Mengenai FEBC saya berdoa; “Tuhan saya mendengar Injil dari mereka, saya membaca Alkitab dari mereka, masa saya tidak bisa mengunjungi kantor mereka?” Saya berdoa terus dan pada tahun 1986, saya belajar di Amerika Serikat dan diterima di Bible College. Akhirnya saya bisa tinggal di AS selama 1 tahun, dan pada waktu itu saya sempat mengunjungi kantor FEBC. Dan saya diberikan kesempatan untuk bersaksi dan berkhotbah.

Kemudian, pada suatu hari saya diundang lagi untuk datang ke AS. Saya membantu FEBC mencari dana yang digunakan membeli alat ‘teleton’ untuk memperbaiki pemancar yang ada di Hawai. Jadi saya sempat bersaksi di sana dan berkenalan dengan I Wayan Duria.

Dan sejak saya diwisuda dari Seminari Teologia Baptis di Semarang, saya rajin sekali mendengarkan radio. Saat itu YASKI belum mengudara, tetapi saya sering berkunjung ke kantornya di Fatmawati.

Saya sebetulnya seperti menemukan kembali keinginan dan visi saya untuk memberitakan Injil melalui suara, entah itu melalui rekaman maupun siaran radio. Jadi saya ingin supaya di sisa hidup saya, saya masih punya keinginan yang besar untuk terus memberitakan Injil. Kalau saya melihat rekam jejak pelayanan saya, saya tidak pernah padam untuk memberitakan Injil.

Saya mengucapkan selamat ulang tahun. Walau saya tidak mengambil bagian di YASKI, hanya mengamati dari jauh sejak berkunjung ke kantornya di Fatmawati, sampai saya dengar siarannya yang memberikan donasi untuk hamba Tuhan di daerah pedalaman, untuk peternakan dan lain-lain. Itu luar biasa! Saya mendoakan YASKI diberkati TUHAN. Memang sudah diberkati tetapi akan berlimpah lagi, karena ini akhir jaman.