Tantangan dan Perlindungan Tuhan

Shalom, perkenalkan saya Agustinus Ajis, aktivis yang sudah 23 tahun melayani menginjil dari desa ke desa, kampung, pedalaman, kota dan pinggir kota untuk menjangkau jiwa yang terhilang dari umat Israel bagi Tuhan Yesus Kristus. Banyak suka dan duka yang saya alami. Menjangkau jiwa-jiwa untuk diselamatkan, tidaklah mudah. Untuk menjangkau mereka pun saya harus melewati banyak sekali rintangan. Jalan yang berlumpur dan berbatu yang saya lewati, terkadang saya harus menginap di tengah hutan yang gelap dan seadanya untuk alas tidur. Selama 23 tahun, saya sudah merintis 4 pos pelayanan dan berhasil mementori 4 orang. Dan semua sudah  digembalakan.

Setelah itu, saya melanjutkan pendalaman Injil ke tempat pedalaman lain menjangkau jiwa baru bagi Tuhan. Untuk menyambung kebutuhan hidup, selama ini saya menjual obat-obatan seperti obat batuk, pilek, demam, minyak urut, minyak angin, rematik, asam urat, dan sebagainya. Hasil menjual obat itu, saya pakai untuk pelayanan. Banyak sekali tantangan dan ancaman berhala untuk saya. Mereka tidak pernah berhenti mengancam dan menghalangi saya. Tetapi karena kuasa dan perlindungan Tuhan Yesus, saya ada sampai hari ini. Puji Tuhan, saya masih bernafas untuk memberitakan kebenaran Firman Tuhan.

Saat ini saya sudah berhenti berkeliling ke pedalaman, desa ke desa lain. Tetapi saya tetap melayani, hanya saja saya menetap dan mengembalakan di Bayang. Saya telah memulai membersihkan kolam tua untuk memelihara ikan bawal. Ikan bawal itu dijual dan untuk makan sehari-hari. Hasil jual ikan bawal, saya gunakan untuk membantu pelayanan dan menolong orang lain yang susah dan menderita seperti saya. Saya meminta bantuan kepada Yaski untuk memberikan solusi kepada masalah saya dan mohon bantuan untuk mendoakan. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.

Demi Jiwa Kepada Tuhan

Shalom, saudara saudari terkasih dalam Tuhan Yesus. Perkenalkan saya Evangelis Anes. Saya memohon doa dan pertolongan dari Yaski dan seluruh pendengar semua. Saya sudah 18 tahun melayani di desa terpencil dan baru 3 kali keluar dari desa karena akses jalan yang tidak baik. Pada November 2018 lalu, Tentara Nasional Indonesia (TNI) masuk membangun jalan perintisan sampai ke tempat terpencil. Selama saya di pedalaman, saya menanam lada atau sahang untuk bertahan hidup tetapi sahang tidak bisa dijual karena tidak ada akses jalan keluar, maka saya berhenti sejak 10 tahun lalu. Saya sangat menderita. Makan minum seadanya. Pakaian hanya itu-itu saja yang dipakai. Tidak ada bantuan dari mana pun. Puji Tuhan, saya masih bertahan dan setia melayani. Jemaat berkembang dan bertumbuh dalam Kristus Yesus.

Luar biasa kami dalam pelayanan ini, Tuhan memampukan saya dan hamba Tuhan yang lain bisa bertahan dalam perlindungan tangan Tuhan. Pelayanan kami di sini, kami makan minum tidak bergizi, terserang sakit penyakit yang kadang tidak tahu obatnya. Pakaian tidak layak, ancaman pemabuk yang tidak suka dengan kehadiran kami untuk memberitakan Injil dan penyembahan berhala yang masih kuat sekali. Puji Tuhan, masyarakat Dayak yang sudah menerima Tuhan Yesus dan bertumbuh imannya ikut melawan para berhala yang selalu mengancam kami. Saya dan jemaat beribadah di Pondok Kebun yang beratapkan tumpukan daun-daun kelapa kering dan berdinding kayu yang sudah mulai rapuh dimakan rayap. Dalam pelayanan kami, akhirnya Tuhan ada gerakan hati seorang ibu asal Cina Sumatera yang bernama Ibu Rina melalui Pdt. Joamico.

Akan tetapi bantuan itu tidak bisa masuk ke tempat kami pelayanan karena ada pembangunan jalan yang mengakibatkan jalanan becek dengan tanah merah dan rawa. Maka dari itu, saya Ev. Y. Anes bersama jemaat gotong-royong mengangkat seng itu dengan memikulnya dan berjalan kaki kurang lebih jaraknya 31 km atau sehari semalam menuju kampung. Kami memang belum membangun gereja yang baik tetapi kami akan membangunnya dengan kayu bulat, lantai tanah, dinding papan bekas, dan atapnya seng. Dengan material yang seadanya itu, kami sudah sangat bersyukur. Itulah keadaan di pedalaman sekarang.

Kembali lagi, saya ingin sekali menanam kembali sahang tetapi saya tidak punya uang untuk membeli bibit batang sahang. Hasil dari saya bercocok tanam akan saya gunakan untuk pelayanan juga dan untuk menyambung hidup saya. Inilah permohonan saya meminta bantuan kepada Yaski. Terima kasih. Tuhan Yesus Memberkati.

Pengorbanan dan Bayar Harga

Puji Nama Tuhan, Saya Ev. Fivinus K. dan teman saya Ev. Renanto sudah melayani dan menginjili selama 18 tahun di Sungkung Atas. Pelayanan kami sangatlah sulit. Banyak yang mencari kami. Kami dianggap sebagai pengacau, saat memberitakan Injil dianggap pengacau masyarakat. Para penyembah berhala dan masyarakat asli yang tidak suka adanya kami, mereka mencari kami dengan membawa senjata untuk menembak kami.

Kami berdua sangat  ketakutan dan terus berlari untuk mencari perlindungan. Ada keluarga yang kasihan kepada kami dan menyembunyikan kami di belakang gubuk ibadah tetapi orang-orang Kampung Dalam tetap saja bisa menemukan kami. Dengan duka mendalam, saya harus merelakan teman saya Ev. Renanto ditembak mati dengan senjata mereka. Teman saya meninggal di tempat. Tetapi saya tahu, Tuhan sudah merencanakan lebih dahulu. Ev. Renanto sudah menyelesaikan tugasnya dan kini sudah berada di samping Bapa di Surga.

Puji Tuhan karena pertolongan Tuhan, saya masih selamat dari sergapan itu. Atas izin Tuhan dan dukungan masyarakat yang rindu dengan kebenaran firman Tuhan, saya bisa membangun gereja yang digembalakan oleh Pdt. Sam di pool Sungkung Atas. Lalu, saya melanjutkan penginjilan ketempat yang baru lagi.

Ada banyak ancaman yang saya terima saat menginjil. Ancaman nyawa yang tidak hanya di suku lain di luar Kalimantan, tetapi juga di Kalimantan itu sendiri. Agar saya dapat menghidupi pelayanan di sini, saya memohon kepada Yaski untuk mengirimkan bibit kacang, terong, jagung untuk saya usahakan. Saya akan bertani di sini untuk bertahan hidup, membayar harga dan melayani sampai mati. Terima kasih. Shalom.

Melayani dan Bertaruh Nyawa

Shalom, puji dan syukur saya naikan kepada Tuhan Yesus. Perkenalkan, saya Evangelis Linaria. Saya memberikan kesaksian tentang pergumulan berat saya dalam melayani di kampung terpencil. Pergumulan saya bukan masalah makan dan minum. Baik adanya makan rebung, pakis hutan, paku hijau hutan, rotan muda, daun muda karet, sagu, jagung, daun kates atau pepaya itu semua sehat untuk dikonsumsi dari pada makanan yang berkolestrol yang mendatangkan macam-macam penyakit.

Pergumulan saya yang utama, saya sangat merindukan untuk pelayanan Tuhan ke depan menjadi lebih baik karena saya bertanggung jawab atas itu. Tidak hanya untuk pelayanan saja tetapi sekolah anak, kesehatan, dan masalah masa depan saya, suami dan anak-anak.

Pergumulan berikutnya, banyak tantangan, rintangan dan hambatan saat saya melayani ke desa-desa pedalaman. Adat istiadat yang masih sangat kuat, berhala besar-besaran, mantera-mantera, kuasa kegelapan, dan khususnya ketua berhala dan ketua adat bersepakat menghalangi masyarakat Dayak datang beribadah dan menyembah Tuhan. Sangat berat untuk memeranginya karena tidak hanya bertaruh sakit penyakit tetapi juga bertaruh nyawa dan nyawa keluarga. Banyak “kiriman” yang saya terima. Banyak kesulitan yang saya alami dengan keluarga. Tetapi saya percaya, Tuhan Yesus melindungi dan menyertai saya dan keluarga saya.

Pergumulan berikutnya kondisi saya yang miskin di pedalaman. Saya ingin sekali punya usaha mandiri supaya saya dapat menopang hidup saya dan juga pelayanan saya. Saya memilih untuk memberitakan Injil ke pedalaman untuk kemuliaan nama Tuhan dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Saya juga butuh dukungan untuk kelancaran penginjilan. Biarlah semua hanya untuk Tuhan saja. Saya ingin punya usaha ternak ayam di kampung. Tetapi saya tidak punya modal untuk membeli bibit ayam kampung. Saya ingin bangkit dari kesulitan ekonomi. Saya pernah diperlakukan tidak baik tetapi saya bisa lolos dari jeratan iblis dan saya tidak jatuh. Saya mohon Bapak dan Ibu bantu dan doakan apa yang saya dan keluarga perjuangkan di sini. Terima kasih, Tuhan Yesus Memberkati.

Bertahan Hidup

Shalom, saya Ev. Nikodemus Niko hanya ingin memberikan sedikit kesaksian selama melayani dalam penginjilan di pedalaman. Saya dan keluarga sudah 13 tahun pelayanan penginjilan. Tigabelas tahun bukanlah waktu yang singkat untuk melayani apalagi di pedalaman yang tidak ada fasilitas seperti di kota. Di pedalaman sangat sulit untuk memberitakan Injil karena faktor adat-istiadat yang masih kental, latar belakang yang sulit dirubah, keadaan di sana yang miskin dan kekurangan, akhirnya membuat sulit untuk percaya kepada Tuhan Yesus.

Saya ceritakan sedikit tentang hidup saya. Setiap hari minggu pukul 10 malam sampai pukul 11 malam, saya berjalan kaki menyebrang ke Malaysia melewati jalan pintas untuk mencari makan. Demi menyambung hidup, saya harus berjuang di negeri orang. Lalu, saya kembali pulang hari jumat depannya pukul 10 sampai 11 malam tiba di Indonesia lagi. Hari Sabtu istirahat. Hari Minggu saya melayani berkhotbah dari pagi sampai malam. Terus menerus itu dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pelayanan. Singkat cerita, saya diijinkan sakit. Karena saya sakit-sakitan, saya sudah berhenti untuk pergi ke Malaysia lagi.

Maka dari itu, saya meminta mohon bantuan kepada Yaski kiranya memberikan arahan kepada saya untuk membangun masa depan pelayanan pengembalaan, penginjilan dan juga membangun masa depan keluarga. Saya ingin memulai usaha menanam sayur mayur. Tolong bantu saya untuk bisa menjalankan usaha menanam sayur mayur di kampung karena hasilnya juga untuk memberkati sesama hamba-hamba Tuhan lain juga. Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati.

Berjuang Demi Kristus

Shalom, perkenalkan saya Evangelis Rosanti yang pelayanan di desa Sepa, Kalimantan Barat. Saya sudah 13 tahun melayani ke pedalaman dan desa-desa yang belum terjangkau untuk dikenalkan kepada Tuhan Yesus Kristus. Dalam kehidupan saya, saya sudah melewati banyak peristiwa suka duka, susah senang, lapar kenyang, sakit sehat, semua sudah saya lewati kecuali satu yaitu memenangkan jiwa kepada Tuhan. Saat melayani, banyak sekali caci-maki yang saya dapat, diancam, diteror, bahkan saya pernah dipukul karena berhasil membawa jiwa kepada Tuhan. Puji Tuhan, mereka percaya Yesus dalam hati mereka. Saya membentuk 4 pos pelayanan. Setiap pos berjumlah 21-34 KK atau 238 jiwa dibaptis.

Agar semakin bertumbuh, saya menyerahkan mereka kepada teman saya Evangelis, Pdp, Pdm, Pdt terdekat untuk digembalakan. Kemudian saya melanjutkan penginjilan ke pedalaman lain yang sulit dijangkau. Dengan penyertaan Tuhan dalam hidup saya sampai saat ini, saya sudah menggembalakan jemaat tetap sebanyak 217 jiwa dan sebagian sudah dibaptis dan dinikahkan.

Ada yang menjadi kendala bagi saya, kesulitan ekonomi untuk sehari-hari dan hari-hari ke depan. Saya sedang mengusahakan tanah 8×20 m untuk menanam jagung manis tetapi saya belum mendapat bibit. Untuk itu, saya meminta dukungan doa dan solusi dengan kesulitan yang saya hadapi.

Demikianlah kesaksian saya. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.

– Halaman 5 –