Walau Ginjal Rusak, Tetap Setia Melayani Tuhan

Ada 17 pasien yang ikut beribadah, dan sebagian merupakan wajah baru. Yang menarik perhatian, hari itu seorang pemuda bernama Filip memberikan kesaksian. Ternyata ia penderita autoimun, alias tidak memiliki kekebalan tubuh karena ginjalnya tidak bekerja normal. Berikut ini kisahnya…

Pada saat awal kejadian usia Filip masih 22 tahun, menjadi pasien gagal ginjal termuda di salah satu rumah sakit di kawasan Sunter. Sebenarnya kondisi sebelum sakit,  dia sehat-sehat saja tidak ada keluhan apapun. Waktu itu Filip terkena DBD sehingga harus masuk rumah sakit. Di sanalah untuk pertama kali dokter memvonis; ginjalnya bermasalah, sudah stadium 4 dan fungsinya tinggal kurang dari 20%. Biasanya tanda-tanda ginjal bermasalah adalah kaki bengkak dan pinggang sering sakit, tetapi itu tidak aku alami. Cepat atau lambat pasti cuci darah — kata beberapa dokter ahli saat itu. Jadi awal didiagnosa Desember 2016, awal cuci darah 2017.

“Filip anak pertama dari dua bersaudara. Kedua orangtua bekerja di kantor. Karna sakit ini cukup beresiko, papa harus mengalah dan harus merawat nya. Kondisi tubuh Filip sekarang.., puji Tuhan sudah transplantasi/cangkok ginjal. Walau masih pemulihan dan penyesuaian dengan ginjal yang baru. Transplantasi itu baru dinyatakan berhasil kalau sudah 1 tahun. Filip menerima ginjal dari papa.”

Butuh waktu berbulan-bulan bergumul dan merenung, sampai akhirnya di satu titik Filip mau menerima ginjal papanya. Dipikirannya saat itu, bagaimana mungkin untuk kesehatan, dia harus mengorbankan ayahnya yang sudah menanggung beban ekonomi keluarga. Pada saat cuci darah kondisi Filip parah. Berat badan hanya 53kg dan duduk saja berasanya semua tulang sakit sekali, jalan sebentar kaki bengkak dan sesak nafas. Dulu sempat stroke juga, tetapi akhirnya bisa pulih lagi.

Kata Filip, “Pesanku buat semua yang juga sedang berjuang, jangan pernah menyerah. Aku sudah mengalaminya sendiri, semua ini terjadi disaat aku kuliah dan harus Skripsi, puji Tuhan aku tidak menyerah hingga lulus sekarang sudah sarjana. Mujizat masih ada, kalau Tuhan ijinkan proses ini terjadi, artinya Tuhan tahu kita pasti kuat untuk menjalani ini semua. Kalau Tuhan ijinkan terjadi, Tuhan juga yang pasti sertai sampai akhir, dan tidak sedetik pun Dia tinggalkan kita, bahkan di saat keadaan kelihatannya mustahil. Dia tetap setia, ada disisi kita. Seperti saat aku didiagnosa sakit ginjal, sampai aku sudah pulih sekarang, Tuhan tidak ingkar janji. Dia selalu sertai. Ayat ini peganganku dalam hidup, Yeremia 29 : 11 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera   dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan  yang penuh harapan.” (YS/SA)

Tuhan Memberiku Kekuatan

Kedatangan saya adalah ingin sharing, karena setiap malam selalu mendengarkan siaran Radio Heartline di program Sharing and Prayer. Walau tidak pernah interaktif, setiap malam saya mendengar banyak penelepon yang bercerita dan meminta doa di dalam program Sharing and Prayer. Saya merasa digerakkan oleh Tuhan untuk datang ke radio ini, bukan saja ikut mendoakan tetapi berusaha menolong mereka. Banyak sekali pergumulan saudara seiman kita seperti sakit penyakit, dan tergerak untuk membantu salah satu pendengar yang sakit seperti penderita wasir. Bukan suatu kebetuhan saya kenal seorang dokter yang bagus dan khusus menangani wasir ini. Saya ingin membawa dan mengantarnya, ini beban saya.   Melihat banyak pergumulan saudara-saudara ini, saya teringat oleh almarhum istri saya yang belum lama dipanggil oleh Bapa di Sorga. Istri terkena sakit pada ginjalnya dan sebenarnya saya merasa bersalah karena tidak ditangani dengan baik. Itulah penyesalan yang saya alami.

Saya bergereja di Gereja Kristen Indonesia di Karet di daerah Perumnas Tangerang, dan kegiatan saya biasanya memperhatikan orang sakit dan berkunjung. Di usia yang sudah lanjut ini, saya ingin mengabdikan hidup untuk Tuhan. Ada pergumulan yang saya minta untuk didoakan, yaitu untuk kedua anak saya yang bernama Irwan berusia 43 tahun dan Peri yang berusia 36 tahun. Doakan agar mereka mendapat teman hidup yang datangnya dari Tuhan. Tuhan memberkati pelayanan Radio Heartline.”

Berserah pada Tuhan

Sebelumnya, saya pernah bekerja di sebuah perusahaan dan sudah cukup lama bekerja di sana. Karena waktu itu orang tua sakit stroke dan perlu perawatan secara intesif, saya tinggalkan pekerjaan dan merawat beliau selama sekitar 16 tahun. Sejak saat itu saya tidak pernah pikirkan untuk masa depan saya karena hanya fokus untuk merawat orang tua.

Tak terasa usia saya semakin bertambah dan suatu kali saya bertemu dengan seorang teman yang bernama Ibu Aing di gereja. Ia mengajak saya untuk mendengarkan radio Heartline, terutama acara Sharing and Prayer. Sungguh luar biasa saya bisa merasakan kekuatan dan didoakan di acara tersebut. Saya juga memiliki pergumulan untuk teman hidup, meskipun usia sudah tidak muda lagi namun saya tetap berharap kelak diberikan seorang pendamping yang menemani selama hidup saya.

Kami 8 bersaudara dan saya adalah anak bungsu. Saya diberikan warisan oleh orang tua saya. Keempat kakak saya diberikan sebuah rumah, namun saat ini ada masalah karena kakak yang paling besar sedang menepati rumah yang menjadi hak kami berempat, sedangkan rumah itu hendak kami jual. Keadaan ini sangat membuat tidak enak untuk kakak-kakak saya yang lain. Kami menjadi  salah paham dan tidak ada kerukunan lagi gara-gara masalah rumah yang ditempati itu, padahal kakak saya itu sudah diberikan warisan yang lain. Inilah yang menjadi pergumulan saya agar didukung dalam doa, karena kami tidak mau ada pepecahan antara kami sekeluarga. Biarlah Tuhan turut campur untuk yang terbaik bagi hidup kami. Amin.”

Melayani dengan Kasih

Ia putus asa dalam menjalani keseharian hidupnya setelah dokter memvonis bahwa ada saraf terjepit dibagian tulang ekor yang mengakibatkan ia akan sulit untuk berjalan. Keadaan itulah yang mendorong ia untuk mengakhiri hidupnya.

“Saya seorang non Kristen, begitu juga dengan kedua orang tua saya. Saya mengalami kelumpuhan pada kedua kaki. Hal ini terjadi ketika 4 tahun lalu saya terjatuh dengan posisi duduk. Awalnya tidak terasa apa-apa, oleh karena itu saya tidak periksakan ke dokter. Namun satu bulan kemudian saya baru merasakan betapa susahnya kaki saya untuk digerakkan. Akhirnya saya cek ke dokter. Ternyata ada saraf terjepit dibagian tulang ekor saya. Dokter tidak menyarankan untuk operasi, karena justru dengan operasi saya akan mengalami kelumpuhan total.

Tidak putus harap, saya mencoba berobat ke beberapa tempat pengobatan alternative dan juga ke dukun, namun hasilnya nihil. Saya mulai depresi dan mencoba untuk bunuh diri. Namun Tuhan berkehendak lain. Saya masih terselamatkan. Suatu hari, saya diperkenalkan dengan radio Heartline Karawaci 100.6 FM oleh Ibu Yuli, tetangga saya. Ibu Yuli adalah pendengar setia radio Heartline Karawaci 100.6 FM. Ibu Yuli datang ke rumah dan melihat kondisi saya. Saya banyak mendapat nasehat dari beliau. Lalu beliau menawarkan kepada saya untuk bertemu dengan tim dari Heartline Karawaci. Saya memang seorang non Kristen, tapi tidak fanatik. Saya bisa menerima perbedaan asalkan tidak ada yang tersakiti. Beberapa hari kemudian, tim dari Heartline Karawaci datang mengunjungi saya. Melalui perbincangan dan doa, saya mendapat kekuatan baru. Terlebih lagi setelah saya mendengarkan siaran-siaran radio Heartline FM, banyak hal positif yang saya dapatkan. Saya menjadi lebih bersemangat untuk menjalani kehidupan ini, bagaimana pun kondisi saya. Terima kasih kepada Tuhan yang telah mengirimkan tim Heartline Karawaci kepada saya. Walaupun ada perbedaan agama, tetapi tim radio Heartline tetap melayani dengan penuh kasih. Maju terus radio Heartline Karawaci 100.6 FM!”

Radio Heartline Menjadi Teman Setia Dalam Kesendirian

Anaknya tinggal dan bekerja di Jakarta, sementara ia tinggal di Tangerang. Tidak jarang ia merasakan kesepian, terutama saat tiba di rumah, setelah ia kembali dari tempat kerjanya. Bersyukur dengan adanya radio Heartline Karawaci 100.6 FM yang selalu ia dengarkan, ia boleh mendapatkan penghiburan, sukacita dan kekuatan untuk menjalani hari-hari hidupnya.

Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena melalui siaran radio Heartline Karawaci 100.6 FM yang setiap malam saya dengarkan dapat memberikan penghiburan dan kekuatan dalam hidup saya. Terutama saat saya merasa seorang diri. Lagu-lagu pujian dan khotbah yang disiarkan itu sangat memberkati saya luar biasa. Pernah suatu malam saya menghubungi radio Heartline dalam program Sharing and Prayer. Saya minta didoakan untuk kerinduan saya dapat berkumpul lagi bersama dengan anak saya dan sakit katarak yang saya alami saat ini. Saya percaya bahwa Tuhan akan menjawab doa-doa saya sesuai dengan waktu dan caraNya. Terima kasih untuk radio Heartline yang juga telah mengunjugi saya dan memberikan buku renungan Sentuhan Hati. Tuhan Yesus memberkati pelayanan radio Heartline.

Pengharapan Dari Tuhan Tidak Pernah Hilang

Dari sebuah pedesaan, mereka pergi ke kota untuk hidup bersama mengadu nasib. Pada awal pernikahan, semua berjalan dengan baik dan bahagia. Resmedi dan istri dikaruniai tiga orang anak. Hingga di tahun 2006, keluarga ini dilanda masalah besar sampai akhirnya sang istri pun pergi meninggalkan Resmedi beserta tiga anaknya. Segala upaya, termasuk ke paranormal, ia lakukan demi bertemu dengan istri terkasih. Ia hanya mengandalkan kekuatannya semata. Ia lupa bahwa ia memiliki Tuhan yang hidup, yang dapat memberinya jalan keluar. Sampai suatu saat, anak sulungnya, Daniel, berkata pada dirinya, “Bapak orang Kristen kan, kok harus percaya sama dukun?”

Resmedi tertegun mendengar ucapan anaknya. Segera ia berdoa, memohon ampun pada Tuhan atas apa yang telah ia lakukan. Ia melupakan betapa hebat kuasa Tuhan sanggup menolong hidupnya. Di saat itu juga, tak sengaja ia mendengar siaran Radio Heartline yang ternyata sedang di dengarkan oleh anak-anaknya. Melalui khotbah dan puji-pujian yang di dengarnya membuat ia merasa bangkit kembali dari keterputusasaannya. Ia merenungi bagaimana kasih Tuhan telah bekerja dalam hidupnya selama ini. Sejak itu, Resmedi menjadi pendengar setia Radio Heartline 100.6 FM. Begitu banyak berkat yang ia dan anak-anaknya terima melalui siaran-siaran Radio Heartline.

Resmedi kembali menata kehidupan bersama tiga anaknya. Ia berprofesi sebagai supir taksi. Dari mata pencahariannya itu, ia dapat menyekolahkan ketiga anaknya, bahkan si sulung sudah memasuki dunia perkuliahan.

Sampai saat ini, istrinya belum juga kembali ke tengah-tengah keluarga. Tapi mereka yakin bahwa Tuhan akan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dan pengharapan dari Tuhan tidak pernah hilang dan tidak akan mengecewakan.