Yaski Perkuat Pelayanan Rohani Lewat SPK di Takalar

Yaski Perkuat Pelayanan Rohani Lewat SPK di Takalar

YASKI – Di balik tembok tinggi dan kawat berduri, ada jiwa-jiwa yang kerap dianggap telah “mati” oleh dunia. Namun bagi Tuhan, tidak ada ruang yang terlalu gelap untuk dijangkau terang kasih-Nya. Pelayanan firman Tuhan di lembaga pemasyarakatan bukan sekadar rutinitas keagamaan, melainkan jembatan pemulihan bagi mereka yang kehilangan harapan.

Berbagai temuan menunjukkan bahwa pembinaan kerohanian di lapas berdampak signifikan pada kondisi emosional warga binaan. Mereka yang rutin mengikuti pembacaan Alkitab dan diskusi rohani melaporkan kemampuan pengendalian diri yang lebih baik, emosi yang lebih stabil, serta tumbuhnya harapan akan masa depan. Firman Tuhan menjadi “obat” yang memulihkan luka batin dan kemarahan yang selama ini membelenggu.

Selama beberapa tahun terakhir, Yayasan Yaski secara konsisten melakukan pendampingan rohani bagi warga binaan di Lapas Takalar, Sulawesi Selatan, serta di wilayah Tangerang. Pelayanan ini diwujudkan melalui ibadah rutin, pemuridan, konseling pastoral, dan distribusi bahan bacaan rohani.

Pelayanan_rohani_Yayasan_Yaski_di_Lapas_Takalar

Komitmen tersebut semakin diteguhkan dengan penandatanganan Surat Perjanjian Kerja (SPK) antara Yayasan Yaski dan pihak Lapas Takalar baru-baru ini. Penandatanganan SPK ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kerja sama pembinaan kerohanian secara terstruktur dan berkelanjutan. Melalui kesepakatan ini, pelayanan rohani tidak hanya bersifat kunjungan sesaat, tetapi menjadi bagian dari program pembinaan yang terintegrasi.

Pentingnya kehadiran firman Tuhan di penjara juga tercermin dari isu residivisme atau pengulangan tindak pidana. Berbagai penelitian di sejumlah lapas di Indonesia menunjukkan bahwa program rehabilitasi berbasis kerohanian berkontribusi dalam menurunkan angka pengulangan kejahatan. Ketika hati dipulihkan, perilaku pun perlahan berubah.

Mandat pelayanan ini selaras dengan pesan Tuhan Yesus dalam Injil Matius 25:36, “ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.” Mengunjungi dan melayani warga binaan adalah wujud kasih yang tidak menghakimi. Bagi seorang warga binaan, mendengar bahwa dirinya masih dikasihi oleh Sang Pencipta sering kali menjadi titik balik yang mengharukan.

Melalui setiap ayat yang dibagikan dan setiap doa yang dinaikkan, benih pertobatan sedang ditanam. Dan seperti benih yang jatuh di tanah yang baik, kasih karunia Tuhan sanggup bertumbuh—bahkan menembus tembok besi yang paling kokoh sekalipun.