YASKI – Samarinda — Jarak ratusan kilometer tidak menghalangi Cutin Aing (52) untuk tetap mendengarkan program rohani Heartline Radio Samarinda. Sementara itu, bagi Juliana atau Yana (21), Heartline menjadi sarana untuk menikmati musik, menemukan ketenangan, sekaligus mengambil bagian dalam pelayanan suara voice talent.
Keduanya memiliki pengalaman berbeda, tetapi sama-sama merasakan bahwa radio mampu menghadirkan sesuatu yang berarti dalam kehidupan sehari-hari.
Cutin adalah seorang tenaga pengajar di Desa Ritan Baru, Kecamatan Tabang, sekitar 300 kilometer dari Kota Samarinda. Ia mendengarkan Heartline melalui streaming. Biasanya Cutin menyapa penyiar dan berinteraksi dengan pendengar lain melalui Facebook.
Bagi Cutin, siaran rohani Heartline menjadi teman yang menguatkan iman di tengah aktivitasnya. Meski tinggal jauh dari kota, ia tetap dapat mengikuti program-program yang membawa pesan dan menguatkan imannya.
Kesempatan berkunjung ke Samarinda memberinya pengalaman istimewa. Setelah sekian lama hanya mengenal para penyiar melalui suara dan interaksi di media sosial, ia akhirnya dapat bertemu langsung dengan mereka.
“Saya bersyukur Heartline tetap bertahan sampai sekarang dan terus menyampaikan berita baik. Bagi saya ini sangat berarti, terutama bagi masyarakat yang tinggal jauh dari perkotaan,” ungkapnya.
Namun, Cutin juga menyadari bahwa akses internet di daerahnya terkadang menjadi kendala. Ketika koneksi tidak tersedia, ia kesulitan mengikuti siaran streaming. Karena itu, ia berharap jangkauan siaran radio dapat menjangkau lebih banyak kampung, termasuk wilayah Tabang, sehingga masyarakat tidak selalu bergantung pada internet untuk mendengarkan Heartline.
Dari Pendengar Menjadi Bagian dari Siaran
Pengalaman berbeda dirasakan Juliana (Yana). Mahasiswi berusia 21 tahun ini mulai mengenal Heartline Samarinda pada 2024. Sejak itu, ia rutin mengikuti siaran Heartline, termasuk melalui TikTok.
Awalnya, Yana menikmati siaran sebagai hiburan di sela-sela kesibukan kuliah. Ia kerap berinteraksi dengan penyiar dan meminta lagu-lagu yang ingin didengarkan. Namun, seiring waktu, ia juga menemukan ketenangan saat mendengarkan lagu-lagu rohani.
Yana yang bertumbuh di Gereja Katolik, merasakan kedamaian ketika mendengarkan lagu-lagu rohani. Baginya, musik rohani menjadi salah satu momen untuk menenangkan diri di tengah kesibukan sehari-hari.
Pengalaman yang paling berkesan datang ketika ia mendapat kesempatan menjadi pengisi suara (voice talent) untuk program Doa Angelus di Heartline Samarinda.
Dari yang semula hanya menjadi pendengar, kini ikut berkontribusi dalam sebuah program radio. Suaranya menjadi bagian dari materi siaran yang dapat didengarkan oleh orang lain.
“Saya senang dan bersyukur karena bisa ikut mengambil bagian. Bagi saya, ini bukan sekadar pengalaman baru, tetapi juga kesempatan untuk menjadi berkat bagi orang lain,” tutur Yana.
Pengalaman itu membuka perspektif baru baginya. Media radio bukan hanya tempat menikmati siaran, tetapi juga ruang bagi generasi muda untuk terlibat dan memberikan kontribusi melalui talenta yang mereka miliki.
Terus Menjangkau, Terus Menjadi Berkat
Kisah Cutin dan Yana menunjukkan dua sisi dampak pelayanan radio. Di wilayah yang jauh dari pusat kota, Heartline menjadi penghubung bagi pendengar yang rindu akan penguatan rohani. Di tengah kehidupan generasi muda, radio dan platform digital membuka ruang untuk menemukan ketenangan sekaligus mengambil bagian dalam pelayanan.
Keduanya juga mengingatkan bahwa pelayanan melalui media tidak berhenti pada siaran yang dipancarkan atau konten yang ditayangkan. Dampaknya hadir dalam kehidupan nyata.
Melalui siaran radio dan platform digital, Heartline Samarinda terus berupaya menghadirkan program yang menjangkau masyarakat dari berbagai usia dan latar belakang.
Dukungan dari para pendengar, Sahabat YASKI, gereja, dan mitra pelayanan turut berarti bagi keberlanjutan karya ini. Sebab, di balik setiap siaran, ada kesempatan untuk menjangkau lebih banyak orang dengan pesan pengharapan dan kabar baik.
Humaslee i/ii/1026
