Belajar Melihat Diri Seperti Tuhan Melihatnya

Belajar Melihat Diri Seperti Tuhan Melihatnya

Yayasan YASKI – Di balik pribadinya yang aktif dan mudah bergaul, ternyata tersimpan luka yang cukup dalam. Sebut saja Christianus (bukan nama sebenarnya). Ia dikenal senang berbicara, tetapi juga mudah tersinggung dan kerap merasa ditolak, bahkan dalam hal-hal kecil. Banyak orang, termasuk keluarganya sendiri, menganggap dirinya terlalu sensitif. Padahal, di balik sikap itu ada kerinduan besar untuk diterima dan dikasihi.

Sejak kecil, Christianus sering menyaksikan pertengkaran orang tuanya. Sang ayah sibuk bekerja, sementara hubungan dengan ibu dan saudara-saudaranya terasa jauh dan dingin. Tanpa disadari, pengalaman-pengalaman itu membentuk cara pandangnya terhadap diri sendiri. Ia tumbuh dengan perasaan tidak dianggap dan tidak cukup berharga. Penolakan demi penolakan yang ia rasakan perlahan membuatnya mengalami self-rejection dan sulit menerima dirinya apa adanya.

Perjalanan hidup Christianus mulai berubah ketika ia mendengar Firman Tuhan dan bertemu dengan komunitas yang mau menerima dirinya dengan tulus. Melalui lagu-lagu rohani yang ia dengarkan dari radio, pendampingan mentor, serta lingkungan yang memberi ruang untuk didengar, ia mulai memahami bahwa hidupnya berharga di mata Tuhan.

BACA JUGA
Setia Mendengar Heartline, Pak Matius Usia 86 Tahun, Temukan Penghiburan dan Kekuatan

 

Titik balik itu terjadi ketika Christianus mulai mengerti bahwa setiap manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1:26), dan bahwa seluruh ciptaan-Nya dinyatakan sungguh amat baik (Kejadian 1:31). Kebenaran tersebut mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri. Ia menyadari bahwa nilai hidupnya tidak ditentukan oleh penerimaan manusia, melainkan oleh kasih Tuhan yang telah lebih dahulu menerima dan mengasihinya.

Pemulihan itu tentu tidak terjadi dalam semalam. Namun perlahan, perubahan mulai terlihat. Christianus menjadi lebih tenang dan tidak lagi mudah terpicu oleh perkataan maupun sikap orang lain. Luka penolakan yang dahulu begitu kuat kini mulai dipulihkan. Hari ini, ia berani bersaksi dan aktif melayani, agar orang-orang yang memiliki luka serupa dapat mengalami pemulihan dan merasakan kasih Tuhan.

Melalui pelayanan dan pendampingan yang dilakukan, YASKI percaya bahwa setiap orang perlu mengenal identitas dirinya di dalam Tuhan. Ketika seseorang mulai melihat dirinya sebagaimana Tuhan melihatnya, harapan baru dapat tumbuh, pemulihan terjadi, dan hidup pun mengalami perubahan.

Karena itu, YASKI terus menghadirkan program siaran radio, konten digital, kegiatan komunitas, untuk menjangkau banyak orang dengan kasih dan pengharapan. Dukungan dan doa dari para sahabat maupun setiap partisipasi, menjadi bagian penting di pelayanan yang YASKI lakukan Sehingga semakin banyak jiwa mengalami pemulihan dan mengenal kasih Tuhan secara pribadi. Bersama, kita dapat menghadirkan harapan bagi mereka yang sedang merasa ditolak, terluka, dan kehilangan arah hidup.

 

Humas lee /i-iv/ 0526